Besorahnews (6/8/25) Desa Tuamese, yang terletak di Kecamatan Biboki Anleu, Kabupaten Timor Tengah Utara, memiliki potensi besar dalam produksi garam tradisional. Namun, petani garam di desa ini, seperti yang diungkapkan oleh Bendelina Radja pada 6 Agustus 2025, masih menghadapi tantangan dalam metode pengolahan dan ketersediaan sumber daya. Dalam proses tradisional yang mereka lakukan, endapan pasir garam dikumpulkan dan dicampur dengan air, lalu disaring sebelum dimasak menggunakan kayu bakar. Meskipun usaha ini telah dilakukan selama tiga tahun dan menghasilkan garam halus yang laku di pasaran, para petani menginginkan adanya sentuhan teknologi inovatif untuk meningkatkan efisiensi dan hasil produksi.
Bendelina menjelaskan, saat ini para pedagang dari Kefamenanu dan Atambua rutin membeli garam dari desa mereka, dengan harga jual Rp 150 ribu per karung berisi 50 kg. Dalam sebulan, petani garam bisa meraup pendapatan antara 1 hingga 1,5 juta rupiah. Namun, mereka juga menghadapi kendala dalam aksesibilitas kayu bakar yang semakin sulit serta metode pengepakan dan pengelolaan yang masih manual. Kendala ini menghambat kemampuan mereka untuk meningkatkan skala produksi dan memenuhi permintaan pasar yang meningkat.
Mendukung pernyataan Bendelina, Kepala Desa Tuamese, Jhon Adu, menyampaikan harapannya untuk adanya dukungan lebih dari pemerintah. Ia menjelaskan bahwa pemerintah desa telah mengajukan proposal ke Kementerian Perikanan untuk membuka tambak garam seluas 4 hektar. Potensi lokasi untuk tambak garam di desa ini sebenarnya mencapai 50 hektar, namun belum tergarap karena keterbatasan anggaran. Jhon berharap agar proposal tersebut mendapat perhatian dari pemerintah pusat, sehingga pengembangan potensi garam di Tuamese dapat terwujud.
Tentu saja, dengan penerapan teknologi inovatif dalam pengolahan garam, diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas produk, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani garam di Desa Tuamese. Inovasi dalam proses produksi, seperti penggunaan alat penyaring yang lebih efisien atau pengganti kayu bakar yang ramah lingkungan, dapat menjadi solusi untuk mengatasi kendala yang ada. Dengan demikian, potensi besar dari tambak garam di desa ini dapat dimanfaatkan secara optimal, memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat setempat.(cr)

