49 Tahun Mengalami Kekeringan, Petani Desa Nifuboke Terlantarkan 200 Hektar Lahan Pertanian Produktif

Jan Christian
3 Min Read

Besorahnews.id ( 15/4/2026) Masa kejayaan para petani di areal persawahan Aenmau dan Oemanu, Desa Nifuboke Kecamatan Noemuti, Kabupaten Timor Tengah Utara, kini tinggal kenangan. Dahulu, wilayah ini dikenal sebagai pusat kesejahteraan dan kemandirian pangan bagi masyarakat desa. Namun sejak tahun 1980, kondisi persawahan yang terletak di jalur Trans Timor Raya ini mengalami kekeringan parah yang berdampak signifikan pada penurunan kesejahteraan masyarakat setempat.

“Sudah 49 tahun kami tidak bisa menggarap persawahan secara optimal karena keterbatasan air, yang merupakan faktor utama dalam pertanian,” ungkap Dorus Fallo, salah satu petani pemilik lahan di lokasi tersebut. Ia menambahkan bahwa sekitar 200 hektar lahan sawah produktif kini terlantar akibat kekurangan pasokan air irigasi.

Menurut Camat Noemuti, Marianus Lopis, penyebab utama kekeringan ini adalah menurunnya debit air dari mata air Oeluan, yang dulunya menjadi sumber utama irigasi, akibat pembalakan liar hutan lindung oleh oknum tidak bertanggung jawab. Kondisi ini menyebabkan produksi pertanian masyarakat menurun drastis dan berdampak langsung pada kehidupan ekonomi para petani.

“Sebagai upaya mengantisipasi masalah tersebut, para petani sepakat untuk mengelola lahan pertanian secara bergiliran dalam empat siklus. Sebab saat ini, debit air yang ada hanya mampu melayani sekitar 50 hektar sawah per musim tanam. Sedangkan 150 hektar sisanya terpaksa tidak dapat diolah dan dibiarkan terbengkalai,” jelas Marianus.

Dorus Fallo berharap agar pemerintah memberikan perhatian serius terhadap permasalahan ini demi mengoptimalkan kembali produksi pertanian di wilayah persawahan Aenmau dan Oemanu. “Sebenarnya di sekitar lokasi persawahan masih tersedia sumber air potensial seperti sumber air Oenoa dan pemanfaatan air dari Kali Noemuti. Namun, hal ini membutuhkan perencanaan matang dan alokasi anggaran yang memadai dari pemerintah,” ujarnya.

Selain itu, pemanfaatan teknologi pertanian modern diyakini dapat menjadi solusi untuk menyelesaikan persoalan kekeringan dan meningkatkan efisiensi penggunaan air. Dorus menegaskan pentingnya inovasi dalam pengelolaan sumber daya air agar masa keemasan para petani Desa Nifuboke dapat kembali terwujud.

Kondisi ini menjadi pengingat betapa krusialnya kelestarian lingkungan dan peran pemerintah dalam menjaga keberlangsungan pertanian sebagai sumber penghidupan masyarakat desa. Tanpa adanya perhatian serius dan langkah nyata, 200 hektar lahan produktif di Nifuboke terancam terus terabaikan, membawa dampak panjang bagi kemandirian pangan dan perekonomian lokal. (cr)

Share This Article
Tidak ada komentar