Jewawut (Setaria Italica): Pangan Lokal Bergizi Tinggi yang Terlupakan

adminbesorah
3 Min Read

Apa Itu Jewawut?

Jewawut, juga dikenal sebagai sekoi atau foxtail millet (Setaria italica), adalah jenis serealia berbiji kecil (millet) yang dulunya menjadi makanan pokok utama masyarakat Asia Timur dan Asia Tenggara, jauh sebelum beras menjadi dominan. Tanaman ini termasuk famili rumput-rumputan (Poaceae) dan telah dibudidayakan sejak 6000 SM, terutama di China dan Korea.

Nama Lokal Jewawut di Indonesia

Jewawut tumbuh hampir di seluruh wilayah Indonesia dan dikenal dengan berbagai nama lokal. Di masyarakat adat Kaluppini, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, tanaman ini disebut ba’tang dan menjadi bagian penting dalam ritual adat masyarakat.


Mengapa Jewawut Terabaikan?

Perubahan pola konsumsi masyarakat akibat modernisasi dan budaya konsumtif terhadap beras menjadikan jewawut hanya dianggap sebagai makanan burung. Padahal, tanaman ini kaya manfaat dan memiliki nilai gizi tinggi. Minimnya sosialisasi tentang pangan lokal alternatif turut membuatnya semakin dilupakan.


Kandungan Gizi Jewawut yang Unggul

Perbandingan Gizi Jewawut vs Beras:

KomponenJewawutBeras
Protein11–13%7–10%
Karbohidrat~75%~78%
KalsiumLebih tinggiRendah
AntioksidanYaMinim

Jewawut mengandung antioksidan, protein gluten, dan senyawa bioaktif yang berfungsi menangkal radikal bebas, mencegah kanker, serta mengontrol kadar gula darah.


Nilai Ekonomi Jewawut

Sebagai pangan lokal, jewawut memiliki nilai ekonomi menjanjikan. Di Enrekang, harga jewawut pernah mencapai Rp 28.000 – Rp 40.000 per liter, jauh di atas harga beras yang hanya sekitar Rp 8.000 per liter.


Cara Budidaya Jewawut

Kondisi Tumbuh Ideal:

  • Iklim: Semi kering, curah hujan <125 mm
  • Ketinggian: Hingga 2.000 mdpl
  • Jenis tanah: Subur, bisa dari tanah berpasir hingga liat

Teknik Budidaya:

  1. Tanpa semai, benih langsung ditabur atau ditanam di lubang.
  2. Bisa ditanam di ladang terbuka atau green house.
  3. Jarak tanam ideal: 75 x 20 cm atau 70 x 25 cm.
  4. Kebutuhan benih: 8-10 kg/ha.
  5. Umur panen: ± 3 bulan.

Jewawut dapat ditumpangsarikan dengan tanaman seperti padi gogo atau jagung, karena kebutuhan airnya rendah dan waktu panennya lebih cepat.


Olahan dan Produk dari Jewawut

Jewawut bisa diolah menjadi berbagai makanan seperti:

  • Bubur jewawut
  • Sokko (sejenis ketan)
  • Wajik (baje)
  • Panganan adat lainnya yang disajikan setelah upacara adat

Potensi Jewawut dalam Ketahanan Pangan Nasional

Jewawut adalah pangan lokal sehat, bergizi, dan mudah dibudidayakan. Kandungan nutrisinya melebihi beras, menjadikannya komoditas alternatif potensial dalam menghadapi krisis pangan global dan memperkuat kedaulatan pangan lokal.


Kesimpulan

Jewawut bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi juga harapan masa depan. Dengan gizi tinggi, nilai budaya, dan potensi ekonomi yang besar, jewawut layak untuk dibudidayakan kembali secara masif. Pemerintah dan masyarakat perlu mendorong revitalisasi pangan lokal seperti jewawut sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan berkelanjutan di Indonesia.

Share This Article
Tidak ada komentar